Membela Horeg Sebagai Musik Lintas Kelas Masyarakat
The Weeknd menggelar konser perdananya di Jakarta. Acara ini tak tanggung tanggung disambut oleh gubernur Jakarta sendiri, Pak Pramono Anung. Alasannya tentu karena perhelatan ini menjadi daya tarik ekonomi tak hanya penikmat musik di Jakarta dan negeri sendiri, tapi juga negeri tetangga
Sebagai musisi top global dengan jumlah pendengar teratas di Spotify. The Weeknd memberikan penampilan panggung yang maksimal. Tidak hanya menawarkan musik tapi juga pengalaman kolektif dengan suguhan sinyal laser dan semburan obor
Setidaknya itu yang saya saksikan lewat cuplikan rekaman penonton yang menghadiri konser tersebut di JIS. Lalu saya teringat sesuatu, sesuatu yang familiar dan tak asing. Sesuatu yang dekat sekali dengan saya sebagai warga Indonesia. Yaitu, sound horeg
Bedanya, sound horeg yang saya maksud selalu menerima hujatan acap kali para penikmatnya membagikan keseruannya di internet. Ada yang mengatakan mereka norak, suaranya menganggu anak anak kecil, kampungan dan istilah istilah merendahkan lainnya. Sedangkah di sisi lain, konser The Weeknd kemarin dianggap sesuatu yang berkelas, mewah, dan keren. Bahkan semua orang fomo, iri, ingin menjadi bagian dari konser tersebut
Sekilas saja, atau secara intiutif, tentu berbeda orang orang yang menikmati musik ala The Weeknd dengan suara suara yang sangat ngbass. Penggemar The Weeknd dari kalangan remaja remaja metropolitan, selera pakaian yang style kebarat baratan, dan memperoleh pendidikan kelas internasional yang sehari hari ngomong bahasa inggris sedangkan penggemar musik horeg berasal dari daerah pinggiran kabupaten yang ngomong bahasa indonesia pun masih terbata bata.
Yang satu akan menganggap bahwa penggemar musik kampungan dengan yang lain akan menganggap bahwa konser The Weeknd begitu mahal dan lagu lagunya sudah difahami (karena pake bahasa inggris). Perang selera ini menjadi medan tempur di sosial media beberapa waktu lalu, yang mana bagi diri saya sendiri sebenarnya keduanya ya sama saja
Belum lagi, kemarin juga kita digegerkan dengan sosok Ko Seto. Seorang mikro influencer dari Kediri yang dikejar kejar penggemarnya. Karena menurut mereka, Ko Seto sangat jago berjoget ditemani dengan nada nada horeg. Tentu, di mata orang awam hal ini sungguh menggelikan. Tapi, tentu orang orang jawa timur saat mereka melihat The Weeknd juga akan menggelengkan kepala keherana karena kenapa orang seperti Playboi Carti, Lil Uzi Vert, termasuk The Weeknd yang pakainnya juga kadang nyeleneh bisa dipuja puja?
Kedua golongan masyarakat ini menurut saya punya kemiripan yang sama sebagai penggemar musik berisik, dan cahaya. Tak ada yang berbeda, kecuali lantunan lirik atau kata kata yang mengikuti intelejensi pendengarnya. The Weeknd berbicara tentang kisah percintaan, menggunakan bahasa bahasa puitis sedangkan musik horeg menggunakan bahasa daerah dengan beat beat menghunjam nadi
Pada dasarnya horeg maupun musik musik barat adalah selera yang disukai oleh kedua kelompok masyarakat. Masyarakat kelas atas dan kelas bawah. Masyarakat berpendidikan dan non-berpendidikan tinggi. Jadi ga perlu lagi, kita menghujat selera kelompok satu dengan kelompok lain hanya karena yang satu tidak mempunyai style pakaian yang kita suka, atau bahkan secara estetika mereka tidak begitu cantik atau tampan.
Pada dasarnya orang orang Jakarta juga suka musik musik horeg, bedanya musik horeg itu dibungkus dengan bahasa inggris internasionyel, sedangkan horeg bisa muncul lebih apa adanya dan membumi
Saya setuju bahwa horeg adalah sebuah bentuk budaya dan ekspresi masyarakat untuk menikmati seni, tapi penyelenggaraan horeg juga seharusnya melalui beberapa tahapan atau regulasi mulai dari waktu, tempat, dan berapa desibal yang dilakukan. Saya harap entah politisi manapun bisa menjadikan ini kesempatan untuk merangkulnya sekaligus mencari suara
Konser The Weeknd bisa mempan dari segala hujatan karena memang penggemarnya terdidik. Namun, itu tak mengubah persepsi saya bahwa orang kota dan orang desa sama sama suka berisik dan norak satu dengan yang lain


Comments
Post a Comment