Membahas Film Film Indonesia Yang Begitu Begitu Aja
Tapi, apakah kualitas film makin ke sini, makin membaik? tidak juga. Efek itu juga memberikan kutukan tersendiri, pasalnya film diproduksi tidak untuk menggebrak lagi. Ia lahir karena hasil komoditas dari IP IP yang sudah teruji di pasar. Misal, film berdasarkan utas twitter, film berdasarkan konten youtube, film berdasarkan buku best seller. Hal ini sah sah saja secara bisnis. Tapi tak memberikan kemajuan signifikan dalam perkembangan sinema dan film
Di Prancis, ada seorang sineas bernama Jean-luc Godard yang mengkritisi komersialisme hollywood. Ia menganggap film film hollywood mempunyai struktur yang mudah ditebak dan dibuat untuk mendapatkan profit semata. Seniman tak banyak terlibat. Film hanya dianggap sebagai produk untuk memperoleh keuntungan. Resah dengan hal ini, Godard bersama kawan sineas lain seperti Francuis Truffaut dan Agnes Varda dan lainnya, membentuk sebuah pergerakan sinema yang dikenal dengan nama French New Wave, dimana Godard mulai mendobrak pakem pakem teknis perfilman hollywood. Diantaranya, menggunakan set yang menyatu dengan lingkungan sekitar, tidak menggunakan wardrobe terhadap aktor aktornya, dan menggunakan teknis editing jumpcut yang pada saat itu tidak lazim. Akhirnya, gerakan ini menginspirasi para sineas di dunia. Menganggap bahwa French New Wave merupakan titik balik bangkitnya perfilman, khususnya sutradara sebagai subjek, sebagai seniman layaknya pelukis, penyanyi dan penulis buku
Di Indonesia, gerakan seperti ini jarang terjadi. Film yang muncul dan rilis belakangan ini dibuat demi memenuhi kebutuhan pasar. Tentu, kita mempunyai beberapa PH yang bermain main dengan tema tema eksperimental seperti Imajinari dengan Jatuh Cinta Seperti Di Film Film dan Studio Batu milik Wregas dengan rilisnya Para Perasuk.
Masalahnya adalah siapa pihak dibalik produksi film film yang makin menjamur ini? jikalau film masih dikendalikan dengan investor dan pemilik modal, bukankah dari segi visi dan tujuan film film ini harus berorientasi pada keuntungan, yang mana berarti mengikuti selera orang banyak sehingga perkembangan film dari segi genre, teknis, gaya penceritaan (khususnya) semakin sulit didobrak?
Jokan beruntung menemukan momentumnya pada tahun 2015, era dimana generasi millenial mendominasi jantung ekonomi, sehingga mereka bisa memilih tontonan yang lebih cocok dengan referensi mereka. Udah ga jaman tuh, film film horror modal tete atau judul judul erotis clickbait. Akibatnya, Pengabdi Setan bisa menjadi film terlaris di masanya. Ia bahkan mengubah genre film Indonesia satu dekade terakhir
Efek negatif komersialisme film Indonesia paling terasa saat akhir akhir ini makin menjamur film yang semakin mengeksploitasi tema kelas menengah. Film film seperti, 'Tunggu Aku Sukses Nanti', '1 Kakak 7 Keponakan', 'Home Sweet Loan' adalah bentuk poverty porn, dimana kemiskinan menjadi konsumsi hibuan publik tanpa esensi
Memang naif rasanya untuk menuntut film sebagai medium politis yang bisa menggerakan masa untuk mengerti akan kesadaran kelas. Namun, dari sini saja kita bisa membaca bahwa level intelektualitas dan daya kreatif para sineas hanya sebatas ngoprek ngoprek kamera dan menulis cerita halu. Belum lagi, perdebatan semu di sosial media yang mempermasalahkan teknis produksi film. Sineas seharusnya mendobrak pakem produksi film dengan keterbatasan malah harus dipusingkan dengan sesuatu yang materil alih alih menjadikan film sebagai medium untuk eksperimen dan mengangkat isu sosial



Comments
Post a Comment