Butiran Abu Nostalgia Gunung Kelud
Anak krakatau dilaporkan menyemburkan erupsi, abunya terbang dan menghujani khususnya bagian barat pulau jawa. Kabupatenku, tepatnya Rajeg, masih seperti hari hari biasanya dimana kami tak bisa membedakan mana abu vulkanik dan debu jalanan. Keduanya sama sesaknya. Namun, yang saya lihat banyak orang berbondong bondong membeli masker untuk melindung organ pernafasan. Saya merasa kuat dan kebal dengan segala macam jenis debu. Saya tak pernah kuatir akan debu debum dan abu erupsi ini. Karena saya sendiri pernah mengalami hal jauh lebih buruk, tahun 2014 saat letusa gunung kelud terjadi
Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 7. Saya teringat hari itu adalah hari jumat. Pukul 6 pagi namun langit masih gelap layaknya langit subuh yang belum tergores ufuk. Saya sempat kebingungan, apakah hari masih malam? bahkan saya menyangka bahwa dunia sedang kiamat
ternyata, benar saat matahari mulai tak malu malu lagi menampakkan dirinya. Saya bisa melihat dengan jelas seisi jalanan sudah tertutupi abu. Abu tebal layaknya pasir. Semua abu abu ini benar benar menutup setiap sudut desa. Setiap pohon dan tumbuhan
Bak musim salju, abu abu ini bisa ditemui dimana saja. Tak jarang, saat menaiki motor, debu akan berterbangan dan kami refleks menutup mulut. Tak ada pengumuman sekolah akan libur, kami masuk sekolah seperti biasa.
Hal paling menjengkelkan adalah rumah kami belum dipasang plafon, sehingga hal ini membuat pasir pasir dari langit bisa masuk ke rumah lewat celah celah genteng. Saat itu saya bersama paman dan adik saya sedang berusaha menamatkan games God Of War. Kadang di tengah tengah permainan kami harus menyapu ruang depan tv berulang kali, karena butiran ini amat menganggu dan tak jarang bikin kulit kaki ngeres
setiap hari saya hanya bertanya tanya kapan ya musim abu vulkanik ini berakhir? karena saya tak kuat dengan sumpeknya udara kotor. Barang kali satu kali siraman hujan bisa menyapu bersih abu abu di jalanan dengan baik. saya tak yakin musim hujan akan datang sebentar lagi
lalu, turunlah hujan saya tidak menyangka bahwa hujan cepat sekali datang. dan ternyata satu kali hujan turun, belum cukup mengusir abu vulkanik ini dari dedaunan dan rerumputan
abu vulkanik gunung kelud membuat saya mengingat banyak hal. tentang waktu yang terbuang sia sia karena saya lebih banyak main PS dibandingkan belajar dan masa dimana kesehatan mental om saya masih stabil. saat itu kami belum memusingkan perihal pekerjaan dan gede mau jadi apa. kami hanya menikmati detik demi detik untuk bermain PS bersama sama.
dan sayangnya itu adalah hari terakhir kami merasakan kestabilan mental om kami hingga akhirnya dokter spesialis kejiwaaan melaporkan bahwa om kami punya semacam kelainan. entahlah, ibu saya mengatakan bahwa ia kerasukan jin, tante saya sampe membawakan kembang 7 rupa untuk memandikannya. tak ada yang benar benar tau apa yang terjadi dengan kondisi om saya.
kini, abu vulkanik itu datang kembali, dari gunung yang berbeda. saya berharap krakatau tak separah letusan gunung kelud. karena kalau sampe iya, bayangkan berapa banyak orang yang mengkaitkannya dengan peristiwa supranatural atau relijius. jika orang orang menganggap letusan api adalah azab, saya menganggapnya sebagai butiran nostaligia



Comments
Post a Comment