The Odyssey: Ketika Nolan Mencoba Menggorok Sebuah Karya
The Oddesey karya Christopher Nolan berhasil memperoleh satu milyar dolar. Sebuah angka yang sangat fantastis dimana saat ini iklim perfilman mulai lesu karena gempuran layanan streaming. Ditambah dengan attention span orang orang sekarang yang semakin mengecil. Semua itu bukanlah halangan bagi para manusia untuk mau datang ke bioskop dan duduk tenang selama tiga jam. Durasi sepanjang itu setimpal dengan pengalaman sinema yang tak tertandingi. Nolan berhasil membangun dunianya, mengadaptasi karya berpengaruh Homerus yang terkenal dari generasi ke generasi. Sebuah adaptasi yang pantas dan patut dirayakan
Di balik gemerlapnya. Nolan tidak terhindar dari segala kontroversi. Mulai dari pemilihan peran dan sisi akurasi sejarah. Beruntung, Nolan mengisolir dirinya dari hal hal berbau teknologi sehingga ia/tim-nya tak harus menanggapi semua itu. Namun ada hal yang sepertinya banyak orang lewatkan dibanding dengan meributkan warna kulit Helen yang tidak cocok dengan selera masyarakat kebanyakan. Yaitu, tentang gaya atau tone penceritaan Nolan di akhir akhir karirnya
Nolan dalam film sebelumnya, Oppenheimer atau bahkan lebih kebelakang lagi seperti Interstellar dan The Dark Knight selalu menitik beratkan karakter utama sebagai pahlawan yang harus menyelematkan orang orang yang ia sayang. Semua kebetulan sah sah saja untuk cerita fiksi tanpa adaptasi dari karya lain. Bahkan untuk Oppenheimer yang merupakan biopik, Nolan juga menjadikan sosok penemu bom atom itu sebagai pahlawan yang berhasil mendamaikan dua negara yang tengah berperang dengan mengedepankan rasa bersalah.
Tentu supaya seru, Nolan tidak menjadikan sosok pahlawannya hitam dan putih layaknya The Avengers. Ia menambahkan bumbu bumbu gejolak moral dalam pandangan karakter utamanya. Misalnya, Oppenheimer yang menyelingkuhi istrinya, Cooper yang meninggalkan sanak familnya, dan Bruce Wayne seorang vigilante, dan di film terbarunya ini Oddysius yang mempunyai darah di tangannya karena membantai kota Troya, menghancurkan berhala Atena dan mengganggu putra Poseidon
Format format klise seperti ini pernah bermasalah ketika Darren Aronofsky mencoba mengadaptasi sebuah kisah dari kitab suci, Noah. Di sana, Aronofsky mencoba untuk menjadikan Noah, Nabi Nuh sebagai sosok yang hitam-putih juga. Ia digambarkan suka membunuh, bengis, minum minuman keras. Sangat jauh dari sosok nabi/rasul yang sering diceritakan dalam kalangan relijius
Nah, hal serupa juga terjadi dengan berbagai kritik dari para klasisis yang menganggap bahwa karya film terbaru Nolan memaksakan formula film modern yang jauh dari karya Homer.
Menurut apa yang saya baca dari New York Times, Nolan terlalu menjadikan tokoh utama dari kisah ini, Odysseus , terlalu heroik. Misalnya, ketika ia tersesat di lautan. Dalam karya aslinya, Odysseus memang menjalin hubungan dengan beberapa perempua seperti Calypso dan Circe. Ia bahkan mempunyai anak. Namun, di sisi lain, Penelope tetap menjaga kesetiaannya meski ia tahu bahwa Odysseus mungkin takkan kembali
Dalam karya Nolan, Odysseus digambarkan begitu heroik. Ia mencoba pulang demi anak dan istrinya, keluarganya dan kerajaannya. Ia juga melarang salah satu anak dari kerajaannya untuk ikut perang karena ia kasihan dan lebih menyarankan ia untuk menjaga adik adiknya, yang kelak anak itu adalah Antinous, yang justru akan mencoba untuk merebut istri dan kerajannya.
Penelope juga digambarkan setia, ia bahkan membuat semacam janji, tidak akan menikah sampai ia selesai menenun sebuah kain.
Jadi jika ada yang marah marah kenapa karakter Helen tidak cantik, atau baju zirah yang dikenakan pasukan Odysseus tidak akurat. Katakan saja, bahwa memang film The Odyssey ini bukan sebuah adaptasi, tapi lebih menjadi sebuah representasi modern dari karya klasik ribuan tahun lalu.
Maka dari itu, menurut saya, ketika ada sebuah karya apapun yang ingin diadaptasi menjadi sebuah film. Kita sebagai penggemar harus melapangkan dada bahwa karya tersebut sedang digorok, dibunuh, karena sudah pasti tidak akan pernah akurat dengan apa yang kita bayangkan.



Comments
Post a Comment