Apa itu Merdeka dan Terjajah


 

Sepertinya linimasa tak henti hentinya memberikan bahan baru untuk entah dibicarakan, ditertawakan, dicaci maki bahkan dikeroyok oleh para penduduk internet. Pasalnya, baru baru ini sedang ramai tukang cukur yang menolak untuk memasang tiang untuk mengibarkan bendera sebagai bukti turut merayakan HUT RI Ke-81. Alasannya, ia mengatakan bahwa negara ini belum merdeka. Sehingga, memasang bendera di rumah baginya tidak lah perlu karena kemerdekaan sesungguhnya belum ia rasakan

Hal ini spontan, menjadi buah bibir. Bahkan pihak berwajib turun tangan dan memaksa tukang cukur tersebut untuk membuat klarifikasi minta maaf karena telah membuat gaduh jagat internet

Lalu, ada diketahui dua orang warga Thread (Twitter versi Instagram) yang mem-posting ulang pidato kepala negara tentang nuklir berakhir ditangkap pihak berwajib. 

Belum lagi, kisruh di Aceh yang melibatkan masyarakat yang dulunya menuntut Aceh merdeka dari Indonesia dan membangun negaranya sendiri. SBY dulu berhasil mendamaikan, kini mereka terpecah belah lagi

Saya tidak akan menyangkut pautkan carut marut negara ini ke nama pemimpin tertentu. Persetan dengan pemimpin. Siapapun pemimpinnya, saya tak peduli. Namun yang jelas, ketika kita melihat sekitar dan apa yang terjadi hari hari ini, negara ini sejak ia bebas dari cengkraman penjajahan Jepang dan Belanda masih jauh dari kata merdeka

Saya jadi teringat ucapan Zen RS di sebuah siniar ketika beliau membahas tentang Tan Malaka dan Soeharto, atau apapun di antara keduanya. Ia mempertanyakan, "Memang Indonesia, pernah benar benar bebas dari rezim otoriterianisme? Dulu saat Orde Lama, Soekarno juga otoriter saat ia bekerja sama dengan Jepang, lalu Orde Baru, Soeharto juga jelas otoriter dengan menempatkan keluarganya dalam bisnis bisnis negara. Lalu era Reformasi?, bayangan otoriterianisme itu tetap ada dengan adanya Jokowi"

Saya tahu tidak seperti itu tepatnya apa yang diucapkan Zen RS, namun saya menilai ucapan ini sangat dalam, meskipun tak ada satu pun orang yang mau mencatutnya lalu diunggah sebagai klip Tiktok. Pertanyaan ini memberikan kita semua renungan sebenarnya apakah kita memang sudah benar benar bebas dari otoriterianisme, atau lebih sederhananya, memang Indonesia sudah benar benar merdeka?

Mungkin kita perlu kembali dulu ke beberapa tahun saat Belanda menjajah Indonesia. Oh ya dan istilah menjajah sebenarnya juga sungguh problematik dan masih diperdebatkan. Sebenarnya menjajah yang seperti apa? apakah dengan menghancurkan rumah rumah dan membunuh anak anak layaknya di film film. Atau, bagaimana?

Mungkin buku karangan Prammoedya Ananta Toer, bejududl bumi manusia bisa memberikan sedikit gambaran, dan bayangan bagaimana situasi tersebut. di buku itu, terdapat segregeasi, semacam pemisahan tempat tempat umum yang hanya boleh dipakai oleh kalangan kalangan tertentu. di buku itu setidaknya, yang saya ingat, ada dua golongan, pribumi dan eropa. Minke yang merupakan pribumi jatuh cinta dengan  Annelies, putri dari Nyai Ontosoroh dan warga belanda (saya lupa). Dari cerita Minke kita bisa membayangkan bagaimana situasi "penjajahan" masa lalu

Dan ketika membacanya sekarang, saya sesekali mengerenyitkan dahi. "Lho, kenapa sangat familiar?". Bukan karena Minke yang harus digeret menggunakan kereta kuda. Tapi,  karena tindak tanduk orang orang belanda saat itu yang mirip dengan pejabat pejabat sekarang. Arogan dan semacam mempunyai sentimen sendiri agar jauh dari realitas orang kelas bawah

Kalau mau dilihat lebih secara global, Tan Malaka dalam bukunya Naar De Republike. Selain memberikan solusi bagaimana negara seharusnya berdiri, ia juga memberikan wawasan bagaimana orang orang barat (ia menyebutnya sebagai kapitalis) menjulurkan tangan tangan guritanya ke negara negara berkembang, termasuk indonesia. Caranya mereka memberikan pinjaman kepada negara negara yang baru kalah perang dunia kedua untuk membangun negara mereka menjadi negara yang utuh

Hari ini, kemerdekaan suatu negara rasanya bisa terlihat ketika beberapa suatu negara bisa berdaulat menentukan kebijakan luar dan dalam negeri. Misal Iran, dari luar Iran tampak tertutup, anti-Barat, dan tidak bisa menerima kemajuan zaman. Namun, jika diresapi apa yang dilakukan Iran sebenarnya apa yang idealnya negara daulat manapun lakukan. Pertama, mereka berhasil membuat kebijakan yang berlawanan dengan pasar global. Semua produk barat, terutama AS tidak masuk ke Iran. Tidak hanya itu, Iran juga sering kali diembargo secara ekonomi dan mata uangnya melemah. Hal ini bisa terjadi karena Iran memilih untuk merdeka, berdiri di kaki sendiri, meski kadang menyengsarakan rakyatnya. 

Coba kita lihat dengan negara adidaya, seperti Prancis dan Korea Selatan. Mereka mungkin jauh lebih makmur dibandingkan Iran. Namun coba kita lihat bagaimana keputusan mereka di PBB atau panggung dunia, mereka cenderung lebih ngikut kemana maunya US, termasuk mengakui kedaulatan Israel di Timur Tengah

Sekarang coba tengok negeri sendiri, apakah kita sudah benar benar berdaulat? apakah keputusan pemimpin negara ini masih harus mengikuti apa mau barat, apa mau investor, apa mau para konglomerat? jika segala keputusan itu masih harus saling bersinggungan maka naas, kita belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri 

Comments

Popular Posts