White Nights: Curahan Hati Seorang Backburner

 



White Nights karya Fyodor Dostoevsky mungkin menjadi novel tersingkat darinya. Karena singkat saya pun berusaha untuk membacanya dalam sekali duduk, dan ternyata tetap tak bisa karena banyaknya pekerjaan.

Meski memang pendek, ternyata diperlukan kedalaman dalam membaca buku setebal 100 halaman ini. Kata kata yang dipakai tidak serumit novel novel lainnya seperti Crime and Punishment atau The Brother Karamazov. Disini terlihat Dostoevsky seperti menuliskan sebuah catatan harian yang sangat personal, tanpa harus mendakik dakik perkara moralitas atau ceramah panjang-lebar tentang kemanusiaan

Dostoevsky ingin menunjukan dilemanya sebagai manusia yang kesepian yang entah bagaimana ia menemukan secercah harapan berupa seorang perempuan bernama Nastenka. Ia menganggap Nastenka bernasih sama dengannya. Bedanya, Nastenka ia mempunyai seorang tambatan hati yang hubungannya sementara terputus. Di sisi lain, sang narator (bernama The Dreamer), menganggap Nastenka sebagai obat kesendiriannya dengan cara mengobrol dan saling bercerita tentang sejarah mereka satu sama lain

Nastenka bercerita tentang kehidupannya bersama neneknya yang buta dan juga merupakan ibu kos. Sedangkan The Dreamer tak punya banyak yang bisa diceritakan, yang ia tahu hanyalah bentuk bentuk rumah di perkotaan

Namun yang menjadi daya tarik novel ini, menurut saya terletak bagaimana The Dreamer mengobralkan kata kata manis kepada Nastenka. Buku ini diisi beberapa bagian, malam pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Di setiap malam kita akan dibawa dengan proses the dreamer pada awalnya berkenalan, hingga akhirnya ia mengutarakan perasaannya

Nastenka disisi lain luluh juga. Namun kita tahu bahwa pada akhirnya ia harus kembali pada kekasih aslinya. The Dreamer melihatnya secara langsung mereka berpelukan dan meninggalkannya begitus aja di sisi jalan  St. Petersburg. 

Hingga akhirnya The Dreamer tersadar bahwa ia harus benar benar meninggalkan Nastenka saat sepucuk surat tiba lewat sela sela pintunya. Nastenka sudah bahagia menikah bersama kekasihnya, dan bayangan The Dreamer terhadap kehidupan bahagia bersama Nastenka harus pupus. The Dreamer menjanjikan apapun yang bisa ia janjinkan. Ia bahkan mengatakan ia lebih berhak atas segala cinta yang bisa Nastenka berikan, karena ia jauh lebih menderita sedangkan kekasihnya yang jauh disana bisa mencari kesempurnaan di tempat lain. 

Kisah The Dreamer berhasil memotret kisah cinta -mungkin para kawula muda di era modern ini, dimana kadang hubungan lawan jenis bisa berjalan terlalu cair. Kata kata semacam, "jalanin aja dulu" justru merenggut harapan atas kepastian. Dan layaknya hal klise yang terjadi di setiap kisah cinta, orang lama adalah pemenangnya

Comments

Popular Posts