Naar de Republiek Indonesia: Panduan Sekaligus Refleksi Atas Penjajahan dan Pembangunan Negara Dunia Ketiga
Sebenarnya saya tidak suka menggunakan istilah "negara dunia ketiga" yang merupakan istilah warisan kolonialisme. Tapi, karena menurut saya istilah ini sudah populer dan memudahkan untuk menggambarkan bagaimana situasi negara kita saat ini, terpaksa saya gunakan
Tan Malaka kian populer di kalangan anak muda. Madilog adalah buku pertama yang saya baca, dan saya mengakui saya masih berusaha memahami buku tersebut karena struktur bahasa penulisannya yang rumit dan lawas. Tak ada orang yang menulis dengan gaya seperti itu di jaman modern ini
Selain Madilog, Tan Malaka juga menulis banyak buku seperti Aksi Massa, Gerpolek dan lain sebagainya. Salah satu bukunya yang lain, yang kadang luput dari perhatian adalah Naar de Republiek Indonesia. Buku ini jarang dibahas karena memang sudah jarang dicetak. Lalu yang kedua, buku ini ditulis menggunakan bahasa Belanda dengan tujuan para pemikir, cendikiawan pada jaman itu yang rata rata mampu berbahasa Belanda. Dari situ Tan beranggapan bahwa jika ia menggunakan bahasa Belanda, itu bisa membuka perspektif kalangan terpelajar bahwa buku yang ia tulis adalah buku yang berbobot
Memang kalo dipikir pikir langkah tersebut terlalu pragmatis dan tendensius, tapi memang harus seperti itu. Apalagi pada saat itu masih banyak masyarakat terpelajar yang pindah ke Belanda dan tidak mau tau dengan nasib Indonesia yang masih terjajah
Akhirnya setelah mungkin melewati proses yang panjang, buku ini berhasil diterjemahkan dengan seorang penerjemah bernama D. Onko. Lalu seorang pegiat Tan Malaka, Zen RS memberikan catatan kaki yang berisi hal hal penting berupa konteks dan pengertian dari istilah istilah yang Tan tulis di buku ini. Karena kita tahu bahwa, Tan hidup lama sekali. Di sini bahkan sebelum Perang Dunia I, dan sedikit-banyak Tan memprediksi bagaimana terjadinya Perang Dunia II (dan sudah terbukti benar), berupa pengeboman Pearl Harbour dan kolonialisme Jepang seantero Asia
Di dalam bukunya, selain Tan memberikan panduan membangun bangsa yang nantinya juga akan mempengaruhi Bung Karno, tentunya dengan caranya sendiri, Tan juga memberikan pandangannya terhadap kolonialisme menggunakan analisisnya yang berdasar pada Marxisme bahwa kaum buruh yang akan mengubah sejarah melawan kolonialisme. Yang menurutnya, imperialisme merupakan kapitalisme yang membusuk.
Tan bahkan memberikan struktur negara yang jelas dan konkrit. Poin demi poin ia jabarkan dengan harapan para pendiri bangsa, siapapun itu, bisa mewujudukannya



Comments
Post a Comment