Euphoria Season 3: Sepantas Pantasnya Penebusan
Euphoria adalah salah satu serial paling istimewa di hati saya. Sejak episode pertamanya rilis pada tahun 2019, lebih tepatnya pra-pandemi. Euphoria memberikan nuansa dan world building yang berbeda dari series kebanyakan. Ia kelam, gelap, liar, sebuah tontonan yang belum pernah saya saksikan dimana pun. Ada semacam perasaan yang membuat tak nyaman, secara visual di tambah dengan karakter karakternya yang tengah berjuang atas adiksi terutama obat obatan dan seks
Pada season pertama kita tahu bahwa semua karakter berpusat di sekolah. Lalu di season kedua merupakan transisi, karakter utama kita, Rue menemukan siapa dirinya meski harus terbata bata. Di season ketiga, Rue terjebak pada masalah yang lebih besar berupa perang antar dua kartel narkoba. Rue harus menghadi masalah tersebut ditambah dengan gejolak batinnya untuk mencari sebuah penebusan
Banyak komentar beragam terhadap musim terbaru serial remaja suram ini. Mulai dari yang menganggapnya tidak seseru dulu atau ceritanya yang sudah semakin dipaksakan. Semua orang berhak mempunyai opini berbeda, namun hal yang tak terbantahkan, setidaknya menurut saya, adalah bagaimana Sam Levinson tidak menyepelekah perubahan tone dan gagasan serial ini.
Sam memang mengganti tema yang awalnya tentang remaja sekolah menjadi perang kartel, mafia rusia, dan striptis. Ditambah, Sam juga menambahkan trend trend yang sedang menjamur tentang gigs ekonomi, dan tak lupa juga pergulatan romansa kota kota besar. Intinya, Sam membawa Euphoria ke arah baru dengan beberapa hal yang menyegarkan
Namun sepertinya tidak sampai disitu, Sam juga memperhatikan sesuatu yang jarang dijumpai di season season sebelumnya, yaitu tensi dan ketegangan. Namun disini, semuanya full package. Dan tak jarang, setiap episodenya mempunyai suasana yang mirip dengan gaya Breaking Bad. Dimana ada seorang karakter yang terjebak dengan peperangan kartel
Ada beberapa karakter baru. Sam tetap membuatnya berkesan, contohnya Alamo. Dan tak lupa juga seperti gaya penceritaan Euphoria di season sebelumnya, backstory Alamo diceritakan dengan baik, mengenaskan dan membuat kita memahami apa yang ia pernah lalui. Selain itu, akhirnya kita juga mengetahui backstory dari Ali, yang menjadikan kita tak lagi penasaran bagaimana kehidupannya sebelum memeluk agama Islam
Euphoria di season terbaru ini benar benar ingin melepaskan diri dari season season sebelumnya, bahkan bisa jadi menganggap dua season terakhir tidak pernah ada. Hal ini dipertegas ketika Rue bertanya pada Maddy perihal sekolah,
"Did you miss the high school?"
Maddy menjawab, "Fuck, no"
Memang di awal segala resolusi masalah di season kedua diselesaikan begitu cepat, terutama hubungan Maddy dengan Cassie, dimana Nate selingkuh dengan sahabatnya sendiri, hingga akhirnya kita melihat perkelahian di acara perpisahan sekolah.
Karakter Nate, yang dulu kita anggap keren, disini selalu tampil kelabakan. Ia bingung, hidupnya selalu penuh kesialan karena diteror dengan mafia rusia yang menagih hutangnya. Ditambah dengan Cassie yang selalu menuntut
Euphoria season terakhir ini, mungkin tidak sedang bertujuan memberikan konklusi yang tuntas. Alih alih melakukan hal tersebut, Sam cenderung melepas karakternya menemui nasibnya masing masing. Sam sebenarnya cukup cerdik menjadikan media agama/spiritualitas sebagai harapan bagi Rue, dan memang itu satu satunya yang realistis ada di tengah kehidupan tokoh utama kita yang hidupnya blangsak
Spiritualitas itu dipandang dalam segala sisi, Islam, Kristianisme, bahkan Alamo sendiri dengan apa yang ia sebut sebagai epiphanynya.
Namun mau sebanyak apapun harapan berupa spritiualitas, agama atau apapun namanya. Euphoria selalu mempunyai cara untuk mematahkan segala harapan para karakternya. Bahkan hingga akhir, semua karakter lepas begitu saja. Bak anjing yang lepas dari talinya. Ada yang bebas, ada juga yang akhirnya berhenti berdetak. Cassie menemukan kebebasannya untuk memperoleh kekayaan, Maddy bebas dari kekangan Alamo, dan Ali yang bebas dari penjara moralnya baik dan buruk, dan mencoba untuk membalaskan dendamnya
Sam tidak mencoba untuk memberikan konklusi yang menyeluruh sebagai cerita yang utuh. Alih alih ia membiarkan setiap karakter hidup menemui nasibnya tanpa perlu penonton tahu. Cassie tetap terjebak dalam ilusi ketenarannya, Lexi yang semakin terbuka dengan hal hal spiritual, Jules dengan kehidupannya sebagai wanita simpanan. Dan mungkin itu semua adalah bentuk penebusan yang sepantas pantasnya mereka peroleh



Comments
Post a Comment