Backrooms: Yang Paling Menakutkan Adalah Hal Yang Tak Bisa Diketahui
Horor sudah diwarnai dengan berbagai warna. Mulai dari psikologis tanpa hantu seperti yang diusung oleh Jordan Peele, keabsurdan ala Ari Aster, atau kengerian berupa cerita berliku seperti Zach Cregger. Kame Parson melalui film terbarunya, di usia yang baru genap 20 tahun merambah elemen horror yang lebih segar. Kengerian berupa luminal space yang penuh dengan misteri dan perasaan tak nyaman, karena pada dasarnya sesuatu yang tak bisa diketahui adalah hal yang paling menakutkan itu sendiri
Cerita bermula Clarke seorang pemiliki toko furtnitur mengalami banyak masalah hidup mulai dari istrinya yang meninggalkan dirinya dan tagihan listrik yang semakin melonjak, di tengah kesemrawutan hidupnya itu, ia hanya mempunyai Mary, psikolog yang tetap setia mendengarkan segala guncangan batinnya. Suatu ketika ia menemukan sebuah pintu masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia. Pintu itu tak berbentuk seperti pintu, tapi berupa dinding yang bisa ditembus dan membawanya ke ruangan misterius. Ia mencoba untuk mengeksplor jauh ruangan tersebut namun sayangnya hal tersebut justru memparah kondisi mentalnya
Film dibuka dengan sebuah adegan found footage berdurasi kurang lebih lima belas menit. Bagian tersebut bak perkenalan terhadap orang orang awam yang kebanyakan belum begitu akrab mengenai mitologi Backroom di internet. Bagian tersebut berhasil menggambarkan bagaimana film ini akan berlangsung ke depannya. Penuh dengan adegan tak terbuka, lorong tak berujung dan ancaman yang sulit dikenal
Penggunaan klien dan psikolog menggaris bawahi apa yang sebenarnya krusial dalam film ini. Kondisi jiwa dan mental, bahwasannya keseraman tak berupa jumpscare namun sebuah perasaan ngeri yang tak terhindarkan.
Meski tampak keren di luar, Backroom belum bisa mendobrak horor yang sudah sudah. Mungkin itu salah ekspektasi saya sebelum nonton film ini dan berharap bahwa film ini akan mengubah pakem pakem film horror, ternyata tidak juga. Ketika saya menonton, justru saya teringat film film horror klasik lain seperti Blair Witch Project, The Conjuring, Amytville Horror, Chainsaw Texas Massacre, dsb. Dan memang benar, film itu masih menggunakan format serupa. Hanya bedanya ia mengganti elemen elemen, pernak pernik horor yang identik dengan kegelapan dan darah menjadi ruangan hampa
Penggunaaan found footage dengan filter jadul juga berhasil memberikan kengerian, menambahkan kesan misterius dan ketakberdayaan.
Film ini sebenarnya membicarakan sebuah topik yang sampai akhir film tak terjawab, yaitu sebuah petunjuk. Petujunk apapun itu, mulai dari masalah Mary dengan ibunya, Clark tentang traumanya dengan mantan istrinya, yang mana nantinya luminal space adalah sebuah metafor atas pencarian petunjuk yang tak kunjung ditemukan atau permasalahan hidup yang kian tak selesai



Comments
Post a Comment