Sesuatu Yang Tak Sampai Saat Mengajar

One morning, when Gregor Samsa woke from troubled dreams, he found himself  transformed in his bed into a horrible vermin. He lay on his amour-like  back, and if he lifted his head
Sewaktu membaca buku karya Eka Kurniawan di bukunya yang sudah lumayan lama terbit, beliau sering kali menyebutkan beberapa novel/cerita sastra Indonesia klasik yang tidak asing di telinga saya. Salah satunya Runtuhnya Surau Kami dan Sala Asuhan. Membaca dua judul ini, ingatan saya pun terlempar ke masa lalu, tepatnya saat saya masih kelas 2 SMP. Waktu itu, saya ingat sekali dengan jelas seorang guru, namanya Pak Salam dengan antuasias pernah membacakan cerita cerita Indonesia semacam ini di depan kelas. Ia membacakannya saja dengan semangat dengan senyum semringah. Kami sebagai murid, waktu itu, hanya diperintahkan untuk mendengarkan. Kami tidak disuruh mencatat, membacakannya di depan kelas, ia tidak memerintah sedikit pun layaknya guru kebanyakan. 

Anehnya, meskipun pada saat itu suasana kelas begitu monoton karena hanya diisi satu sumber suara dari guru kami yang sudah berumur, dengan kekuatan suara yang serak dan kian melemah, kami tetap mendengarkan dengan khusyuk. Tentu ada beberapa teman saya yang tertidur pulas di pojok kiri dan kanan. Namun Pak Salam, guru kami, bahkan tidak melarangnya. Barang kali ia mengetahui hal tersebut, namun tidak mengacuhkannya. 

Saya ingat jelas, suasana kelas juga tidak berisik atau kacau seperti pelajaran pelajaran biasanya. Dibandingkan dengan pelajaran matematika yang diampu dengan Pak Bambang, pelajaran Pak Salam ini tidak pernah menimbulkan kegaduhan. Bahkan teman saya yang paling banyak omong pun pada saat itu, memilih untuk mendengarkan cerita yang dinarasikan beliau. Kalimat demi kalimat

Saya sendiri saat itu juga ikut mendengarkan. Namun pada saat itu, saya tidak mengerti seutuhnya. Bisa dikatakan saya saat itu pura pura mengerti cerita apa yang sesungguhnya yang sedang dinarasikan ke seisi kelas.  Selain dua judul yang saya sebutkan di atas, Pak Salam juga menceritakan kisah Siti Nurbaya di pertemuan yang lain. Namun sekali lagi, saya lupa gimana ceritanya 

Hingga 10 tahun kemudian akhirnya saya membaca kembali dua judul cerita klasik itu dalam buku Eka Kurniawan. Dan entah bagaimana terdapat beberapa renungan dan pertanyaan, mengapa Pak Salam melakukan hal itu tanpa intensif apapun dari kelas kami. Ia tidak meminta anak anak mencatat, lalu barang kali ia akan menilainya dan memasukkan nilai kami ke dalam rapot, dan secara diktator menentukan apakah kami akan naik kelas atau tidak. Ia tidak melakukan itu semua

Saya pun mencoba untuk mensangkut pautkan pengalaman Pak Salam dengan pengalaman saya yang juga seorang pengajar. Ternyata, saya merasa kami mempunyai beberapa kesamaan/kemiripan

Kemiripan itu terletak ada semacam kehendak kami ingin memberi tahu dunia tentang sesuatu yang kami sukai. Saat itu Pak Salam menyukai cerita cerita sastra klasik, sedangkan saya, karena saat ini sedang marak maraknya cerita klasik seperti Kafka, Leo Tolstoy, Fyodor Dostoevsky saya juga kadang menyisipkan penggalan cerita karya mereka dalam soal bahasa inggris saya

Apalagi dengan adanya kemajuan AI saat ini. Saya sering kali memerintahkan Google Gemini untuk meringkas karya sastra terkenal. Saya yakin bahwa karya sastra ini, selain karena seni menulisnya yang luar biasa, alur ceritanya juga sangat bagus. Sehingga alur cerita saja sepertinya cukup untuk membangun semangat belajar yang baik, saya kira

Salah satu karya sastra yang saya coba ringkas adalah karya Franz Kafka yang berjudul, Metamorphosis. Sebuah novel yang relatif pendek dan cocok untuk diperingkas dan kaya akan interpretasi. Selain itu, ceritanya juga sangat memancing emosional sehingga murid selalu terpantik untuk mengikuti ceritanya sampai habis. Bahkan seisi kelas ketika saya membahas cerita ini, sebagian murid yang biasanya pasif di kelas, sangat aktif untuk mengutarakan tafsirnya terhadap teks ini

Kalian pun bisa ikut menafsirkan cerita Kafka tersebut dengan mengunduh lembar soalnya disini. Semua soal dan ringkasan cerita ini, AI-generated

Kenapa saya melakukan hal ini? lagi lagi karena suka saja. Apa yang dilakukan Pak Salam barusan mungkin sama persis dengan apa yang saya lakukan akhir akhir ini. Mungkin, Pak Salam menemukan cerita yang ia sukai saat sekolah dulu dan mencoba mengenang sepenggal cerita yang pernah ia baca untuk kemudian ia bagikan kepada murid muridnya dulu

Untuk konteks saya, saat saya terpapar dengan aji mumpung literasi di sosial media dan beberapa penulis terkenal yang membicarakannya. Frans Kafka adalah salah seorang penulis yang sedang diramai dibicarakan. Eka Kurniawan membahasnya di salah satu wawancaranya, Haruki Murakami juga begitu di salah satu bukunya. Sehingga saya pun tergerak untuk membacanya juga meski dengan kemampuan reading comprehension yang sudah karatan karena teksnya yang berbahasa inggris

Alhasil, seperti  yang sudah saya ceritakan tadi, cerita Kafka masih menyihir sebagian murid murid saya. Bahkan ratusan tahun setelah ia meninggal

Saya tentu senang bahwa ternyata murid saya masih begitu antusias dengan cerita klasik seperti ini. Barang kali saya juga akan mencobanya kepada rekan rekan guru saya nanti ketika training. Tentu, reaksinya akan berbeda. Karena secara pemikiran, mereka lebih punya beraneka ragam penafsiran

Saya pun bisa merasakan hal yang sama dengan Pak Salam. Beliau tidak peduli apakah murid muridnya akan memperhatikan cerita yang ia bacakan atau tidak, barang kali dalam lubuk hatinya terdapat kesenangan dengan karya sastra tersebut. Begitu pula dengan saya, kadang sulit sebagai guru untuk mencari just a little perks of happines, secercah kebahagiaan yang bisa membuat kita semangat belajar. Kadang ketika mengajar kita menjumpai materi yang itu-itu saja, atau terlalu sulit, atau bahkan bertemu murid yang tidak kita sukai

Pak Salam barang kali juga merasakan keresahan yang sama dengan saya pada saat itu. Tanpa harus ia sampaikan, ia mencari apa yang ia senangi agar situasi pelajaran lebih menyenangkan setidaknya untuk dirinya sendiri. Dan sesuatu itulah yang kadang luput dari murid, alih alih guru marah marah karena banyak sekali murid yang menyebalkan, barang kali, ia hanya mencari apa yang ia sukai agar terdistraksi, sehingga hal hal seperti ini tak pernah tersampaikan

Comments

Popular Posts