Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis Karya Eka Kurniawan: Buku Filsafat Berkedok Sastra
Selalu seru membaca buku yang membahas proses kreatif, terakhir kali saya membaca Novelis Sebagai Panggilan Hidup, dan amat terpukau dengan bagaimana Haruki Murakami bekerja di belakang layar. Ia akan fokus seharian tak kemana mana dalam kurun waktu tertentu untuk menyelesaikan novelnya. Selain itu, beliau juga sangat rajin berolah raga, yang mana hal tersebut membuka wawasan saya bahwa pekerjaan sebagai penulis juga harus memperhatikan kesehatan tubuh meskipun penulis biasanya jarang bergerak saat bekerja
Dalam bukunya yang saya baca ini, Eka Kurniawan keliatannya melakukan hal yang serupa terhadap seorang tokoh sejarah dan sastrawan paling berpengaruh bernama Pramoedya Anantra Toer. Pak Eka tidak hanya membedah bagaimana karya Pram dibuat di belakang layar tapi juga nilai nilai filosofis yang ada di dalamnya
Beliau juga menjabarkan bagaimana sastra bisa berkontribusi dalam masyarakat. Terutama masyarakat kalangan bawah yang kebanyakan kaum petani dan buruh. Pram menolak serta merta sastra yang dihasilkan untuk kepentingan elistisme atau 'pinter pinteran' individu saja. Sastra harus bergerak maju, mengubah sejarah seperti filsafat Hegel bekerja
Dalam kisah hidupnya, proses Pram tidak berjalan mulus. Ia harus dibuang dan diasingkan dalam tiga masa. Masa Belanda, Masa Orde Lama dan Orde Baru. Di dalam penjara karena keterbatasan alat tulis karena dilarang oleh para sipir, Pram menuliskan salah satu karyanya berjudul Bumi Manusia secara oral, membicarakan cerita itu mulut ke mulut ke sesama rekan selnya
Dan itu juga yang membuat saya lebih ingin membaca banyak buku buku karya beliau. Karena kebetulan di rak buku saya tergeletak buku Bumi Manusia Edisi 100 Tahun yang sampulnya banyak orang membecinya itu. Memang perlu diakui, baub
Karena pengasingan itu lah, ia memantapkan diri untuk selalu menulis sebagai bentuk perjuangan. Terutama menyingkap ketidak adilan imbas kolonialisme. Karena semua tulisannya yang selalu menolak atau melawan arus realitas, ia mendapatkan banyak kecaman berupa tuduhan sebagai anggota PKI.
Apakah benar Pram itu seorang PKI? Menurut Eka dalam buku ini, rasanya tidak bisa dijawab semudah ya atau tidak. Ada semacam kompleksitas disana. Dimana ada era dimana Pram merupakan marxist yang fanatis ada juga era dimana ia melepaskan nilai nilai marxisme itu dari dalam dirinya untuk melakukan sesutau yang lebih berkaitan dengan kemanusiaan
Namun kemanusiaan disini tidak sesederhana orang berpidato di TV atau memberikan donasi bencana alam. Ada yang jauh lebih krusial dan mengena, yang Pak Eka sebut sebagai humanisme-proletarian. Yang artinya, kemanusian yang didasarkan pada cita cita terhadap kehidupan kaum bekerja yang lebih layak.
Awalnya Pram mengira bahwa PKI adalah satu satunya cara untuk menempuh cita cita tersebut. Lambat laun, ia meninggalkannya karena terdapat kepentingan internal politik yang tak sejalan dengan tujuan dalam pikirannya. Lalu ia bergabung dengan Lekra sebagai wadah para seniman untuk bisa turun kebawah, menggunakan pikirannya dan alat berupa sastra untuk menggerakan akar rumput. Ia juga sempat mengkritik kelompok bernama Gelanggang yang terdapat Chairil Anwar, Asrul Sani, dkk yang menjunjung nilai nilai humanisme universal, yang nanti kita akan tahu Pram akan menganggapnya sebagai kelompok borjuis yang jauh dari masyarakat kelas bawah
Pemikiran Pram bahwa terdapat pergerakan yang melawan arus sejarah, selain karena juga tentu ia memabaca Marx, ditopang juga dengan pemikiran Hegel berupa dialektika sejarah dimana sejarah bergerak layaknya ide yang berasal dari tesa dan antitesa. Dialetika yang sama dipakai Socrates dalam menghasilkan sebuah ide baru dari apa yang sudah anggap kita tahu, menurut Hegel, sejarah juga bekerja dengan cara yang sama. Dimana terdapat sebuah kondisi dalam sejarah, lalu ada sesutau yang menolaknya, lalu ia akan menjadi sebuah sintesa, lalu sintesa itu kelak akan menjadi tesa kemudian ia akan memiliki antitesa, dan seterusnya. Saya berharap bisa mencoba menjelaskan Hegel sejernih Pak Eka di bukunya, namun karena keterbatasan bacaan filsafat, hanya sekelumit yang bisa saya tumpahkan disini
Hari ini, aliran tulisan Pram kita kenal sebagai realisme sosialis. Yaitu sebuah aliran sastra yang berisi kisah perjuangan kaum buruh/pekerja untuk melawan borjuis. Namun tidak sesederhana si miskin melawan si kaya, karya realisme sosialisme harus memberikans setidaknya propaganda bahwa kelas masyrakat bawah (butuh dan petani) memainkan peran penting dalam mengubah sejarah
Buku ini, yang juga merupakan hasil skripsi Pak Eka sewaktu berkuliah di UGM dulu sangat membantu siapapun yang tertarik dengan Pram, tidak hanya Pram namun juga perkembangan sastra di Indonesia. Karena Pak Eka tidak hanya membahas Pram, namun juga judul judul sastra Indonesia lain yang tak kalah berpengaruh dan wajib dibaca. Selain pembahasan sastranya, Pak Eka juga menambahkan sedikit apa itu Marxisme dan pemikiran apa yang melatar belakanginya. Semua itu terangkum dengan amat jelas dalam buku setebal 200 halaman ini
Setelah selesai membaca buku ini, saya merasakan bahwa ada sesuatu yang tak hanya berupa tulisan, namun juga semangat perjuangan itu sendiri. Sebuah nilai perjuangan yang tak melulu melawan bangsa asing, namun juga bisa jadi bangsa kita sendiri. Karena apa yang Pram alami adalah bukti bahwa kolonialisme tidak tergantung berasal dari bangsa mana dan siapa. Namun pikiran dan hati yang menentukan apakah sifat sifat kolonialisme itu masih tersisa atau tidak.



Comments
Post a Comment