Relasi Kuasa & Kehidupan Akar Rumput dalam Margo's Got Money Troubles

 

Di Indonesia, akhir akhir ini banyak sekali film yang membawa isu kesenjangan sosial, terutama kehidupan masyarakat menengah yang berkutat dengan tagihan tagihan yang tak terhindarkan. Mulai dari listrik, internet, biaya sewa rumah yang tak berujung. Ditambah pula dengan keadaan ekonomi yang semakin lesu

Tak hanya Indonesia, permasalahan ini tentu menyerbak juga di seluruh dunia. Amerika misalnya, meski dikenal sebagai negara adidaya, pada kenyataanya negara ini juga menghadapi problematika yang kurang lebih mirip dengan kebanyakan negara berkembang. Mulai dari tingkat pengangguran, naiknya harga barang barang pokok, kesusahan mendapatkan tempat tinggal, belum lagi konflik horizontal antar ras

Masalah masalah tersebut terangkum dalam sebuah serial garapan AppleTV berjudul, Margo's Got Money Trouble. Di atas kertas, Margo's mempunyai premis yang cukup nyeleneh. Bercerita tentang seorang mahasiswi yang melahirkan lalu berusaha menghidupi anaknya melalui platform Onlyfans. 

Tentu sebagian orang akan memandang serial ini sebagai langkah soft selling platform dewasa tersebut untuk mengadvokasi komersialisasi tubuh dan fetisisme. Nyatanya, setelah menonton seluruh delapan episodenya, terdapat kritik sosial yang lolos dari pembicaraan kita sehari hari, sebuah perbincangan yang belum tentu dibicarakan oleh orang orang yang sudah menghukumi tanpa sedikit pun menonton dan mencerna pesan apa yang serial ini sampaikan

Margo's memang berangkat dari premis nyeleneh yang sudah saya sebutkan tadi. Namun, setiap episode mempunyai caranya sendiri untuk mengkritisi segala isu sosial dari segala sisi

Isu pertama yang pertama yang paling penting adalah isu pro life. Bahwasanya, hak untuk melakukan aborsi atau tidak itu tergantung dari si perempuan. Memang, serial ini mengambil langkah aman bahwasanya si ibu mengambil jalan memilih si bayi tetap di lahirkan, di saat si bapak bersi kukuh untuk mengaborsinya saja. Pertentangan moralitas yang pelan pelan akan mengembangkan cerita hingga ke titik dimana Margo sudah benar benar terhimpit dalam segi ekonomi

Kedua, tentang isu maskulinitas, dimana ayah Margo diceritakan seorang mantan pegulat terkenal yang kembali dari rehab untuk menjalani kehidupan baru untuk menjalin hubungan kembali dengan anaknya yang sempat retak. Si Ayah, menampilkan sisi feminimnya sebagai pria bertanggung jawab dan turut berkontribusi. Sosok pegulat yang terlihat tangguh tak membuat dirinya gengsi untuk terhindar dari segala tanggung jawab, termasuk membersihkan rumah, dan mengasuh anak

Ketiga, tentang hak asuh seorang anak. Pertentangan moralitas antara Margo dengan dosen yang menghamilinya, di akhir episode kita menyaksikan, sampai ke meja hijau. Margo menunjukan bahwa si bapak tak pernah hadir untuk memberikan nafkah materil maupun moril, dan dengan seenaknya merebut hak asuh tersebut. Serunya, serial ini tidak memperlihatkan kedua pihak tersebut secara hitam putih. Namun memberikan ruang bagi penonton untuk merefleksikan bahwasanya kontribusi dari orang tua juga menentukan seberapa besar hak asuh yang diterima

Masalah hak asuh disini juga timbul karena adanya relasi kuasa. Keluarga si pak dosen dari kalangan atas dengan seenaknya bisa menentukan bagaimana nasib si anak. Awalnya si anak mendapatkan jaminan investasi yang bisa dicairkan saat ia menginjak usia delapan belas tahun, namun ketika tahu si ibu, Margo, mencari penghidupan melalui cara yang tabu dengan seenaknya lagi keluarga dosen tersebut bisa membawa urusan hak asuh tersebut ke meja hijau semata dengan alasan bahwa si ibu tidak memberikan contoh yang baik

Ada beberapa adegan yang sengaja memang dirancang untuk membuat naik pitam penonton. Yaitu, saat si dosen menuduh bahwa si ibu tidak memberikan contoh yang baik, tak bermoral, bahkan si orang tua dosen tersebut menuduh bahwa Margo menggoda si dosen. Tentu nyatanya berkebalikan. Dosen mengutarakan itu semua di saat ia tak pernah merasakan bagaimana Margo sulit mendapatkan pekerjaan, kehadiran seorang ayah, dan sulitnya merawat Bodhi (si bayi). Bahkan ia tak pernah merasakan betapa menderitanya Margo mendengar tangisannya setiap malam

Margo's Got Money Trouble berani menampilkan kehidupan masyarakat kalangan menengah bawah yang modern, dalam kata lain kehidupan yang diisi perihal permasalahan ekonomi dan relasi antar manusia yang rapuh, yang kemudian dibenturakan lagi dengan relasi kuasa. Bagaimana masyarakat termasuk keluarga mempersepsikan moralitas yang dianggap menyimpang dan tekanan material yang semakin mencekik.  

Comments

Popular Posts