Ironisnya, Daredevil Jauh Lebih Keren Daripada The Boys

 

Setiap Rabu, bulan Maret, tahun 2026, dua serial pahlawan super dari studio berbeda merilis episode terbaru bersamaan. Daredevil mempunyai premis seperti karya film pahlawan kebanyakan, kebaikan melawan kejahatan bak David melawan Goliath, Matt Murdock yang buta melawan besarnya kekuasaan Wilson Fisk di kota New York. Sedangkan di sisi lain, The Boys mencoba menjungkir balikan atau bahkan mengolok olok trend superhero kita, dengan menjadikan sosok Homelander sebagai versi Superman yang rapuh dan berdarah dingin, ditambah beberapa karakter superhero lain yang hidup bukan seperti superhero, tapi selayaknya selebriti yang haus akan ketenaran

Jika membaca dari dua premisnya saja, barang kali kita lebih tertarik dengan apa yang ingin disampaikan The Boys berupa satire film film superhero, tak lupa juga karikatur kapitalisme berupa Vought International yang menyindir sistem ekonomi mempengaruhi kehidupan kita. Ada sesuatu baru yang The Boys tawarkan ketika kita selalu disuguhkan tontonan superhero yang klise, ditambah dengan istilah superhero fatigue karena setiap tahun selalu ada judul judul film superhero baru 

Namun jika kita bicara dengan eksekusi, apakah The Boys berhasil mengimbangi kuatnya pesan tersebut ke layar televisi kita? Nyatanya usaha tersebut tidak semulus dengan apa yang berhasil dilakukan oleh Daredevil. Marvel Studios, selaku studio yang memproduksi serial Daredevil, berhasil menterapi superhero fatigue menjadi sebuah tontonan yang merefeklesikan kehidupan masyarakat kita sehari hari, berupa perlawanan, kekuatan massa dan yang paling penting, keadilan

Ya, memang. Kedua protagonist kita, Billy Butcher dan Matt Murdock merupakan vigilante yang berusaha untuk menghukum para kriminal. Bedanya, Billy takkan segan segan membunuh siapapun yang bukan kelompok The Boys, bahkan anaknya sendiri. Sedangkan Daredevil, percaya akan penebusan, bahwa bukan hak kita sebagai orang baik untuk menghilangkan nyawa seseorang, meski ia adalah orang yang sangat jahat

Seperti layaknya superhero akhir akhir ini. Sepertinya kurang jikalau sebuah film hanya menampilkan satu superhero saja. Harus ada setidaknya satu superhero yang menjadi cameo atau partner dalam misi tokoh utama kita.  Daredevil kaya akan dengan karakter yang diambil dari komik, bahkan karakter yang belum kita dengar sebelumnya. Serial ini juga mengembalikan karakter dari serial pendahulunya yaitu Jessica Jones, Bullseye dan di episode terakhir, Luke Cage

The Boys juga melakukan formula yang sama. Ia membawa karakter Soldier Boy yang sudah dinyatakan tewas di musim sebelumnya, namun karena Homelander membutuhkan sosok ayah, ia kembali dibangkitkan olehnya

Namun entah bagaimana, ketika saya menonton keduanya. The Boys justru tidak semenarik premis/pesan yang ia sampaikan. The Boys seolah lupa dengan pijakan kakinya sebagai antitesa dalam kultur superhero, alih alih ia melawan arus, justru ia sendiri  yang terbawa arus jebakan spin-off dan franchise.

Semua franchise, terutama superhero, mempunyai template yang semua orang pasti tau. Sebuah kontinuitas. Bagaimana caranya satu film kalau laris tidak hanya berhenti sampai disana. Ceritanya harus melebar, melahirkan karakter karakter baru yang bisa diperah. One box office after the another

Daredevil dengan kreatif bisa mengatasi itu dengan berfokus pada sang karakter utama, Matt Murdock. Kita tau tujuan utamanya, kita diberi semacam conviction bahwa keadilan adalah satu satunya prinsip yang Matt bawa, bahkan semasa Daredevil masih dalam naungan platform Netflix. Ia masih membawa semangat itu, bedanya sang kreator menambahkan kematian Foggy, sahabat Matt, agar ada alasan mengapa cerita harus melaju

Di sisi lain, The Boys, menggunakan template yang sama seperti season sebelumnya. Season terakhir tak terasa seperti season terakhir, dimana setiap episode selalu ada urgensi. Ia lebih terlihat seperti season season biasa yang diisi dengan konflik remeh temeh. Katakan perseteruan antara Billy dan Hughie yang tak habis habis. Ditambah dengan sifat psikopat dan narsistik Homelander yang sudah tidak bertenaga. Seluruh penggemar sudah mengerti dengan sifat Homelander yang sebobrok itu, namun penulis selalu mencekoki perkara tersebut seakan hal tersebut masih menarik

Saya tidak bilang bahwa sifat narsistik itu ditulis dengan jelek. Ditulis dengan baik. Tapi kami sebagai penonton bosan. Kami ingin tau bagaimana Homelander ini menemui ajalnya. Alih alih ia menerima wahyu bahwa ia adalah Tuhan. Yang mana angle terlalu mudah untuk membuat serial ini kacau, sekacau kacaunya

Daredevil membawa premis yang klise, namun dibawakan dengan tidak murahan. Sisi heroisme menjadi simbol, bukan hanya pada Dardevil sendiri, tapi juga orang orang disekitarnya. Karen Page, BB, Jessica Jones bahkan karakter psiko di series sebelumnya, Bullseye pun menebus dosa dosanya lalu menjadi salah seorang yang membantu Matt. Tentu itu tidak ditempuh dengan mudah, ada semacam gejolak di beberapa episode yang cukup fair. Alih alih menjadikan salah satu episode sebagai filler

The Boys kelimpungan dalam bercerita. Karakternya tidak menarik. Serta kejenuhan saya menonton tingkah laku Homelander,  untuk pertama kalinya dalam sejarah menonton The Boys membuat saya tertidur pulas.  

Comments

Popular Posts