Herald Van Der Linde's Majapahit: Melihat Bagaimana Indonesia, Sebelum 'Indonesia'

Membaca buku Majapahit karya Herald Van Der Linde, ibarat menaiki mesin waktu ke sebuah era sebelum kita mengenal daratan dan lautan ini sebagai Indonesia. Herald menceritakan sejarah kerajaan Majapahit dengan begitu mengalir, detail, mengasyikan seolah olah kita dibawa bertamasya dan tinggal mengikuti saja kemana Herald membawanya. Meskipun buku ini merupakan non-fiksi alias buku sejarah, Herald berhasil menuturkannya seperti buku novel antar kerajaan bak Game of Thrones. Ia tidak menggunakan bahasa yang teknis. Pemilihan kata katanya sangat sederhana, ia juga sering kali memberikan pengenalan karakternya, sehingga kita sebagai pembaca bakalan menebak nebak bagaimana cerita (baca: sejarah) Majapahit kira kira berakhir
Buku ini sebenarnya merujuk pada sebuah kitab bernama Desawarnana, sebuah buku yang berisi pengamatan Prapanca, seorang juru tulis di era kepimpinan Hayam Wuruk. Lewat buku itu lah, kita akan mencoba menelisik bagaimana kehidupan era Majapahit. Mulai dari masyarakatnya, intrik keluarga kerajaan, hingga keruntuhannya. Herald menuliskan secara meta, yaitu kita juga diceritakan bagaimana aktifitas Prapanca pada jaman itu. Ia datang ke perkumpulan pendeta hindu di bawah pohon untuk mendengarkan hikmah dan petuah, lalu ia menggambarkan bagaimana kehidupan kerajaan yang begitu mewah dan kehidupan masyarakatnya yang memuja muja rajanya
Cikal bakal Kerajaan Singasari juga diceritakan lumayan panjang di awal bagian buku, yang kerap kali bergesekan dengan mitos dan fantasi. Bermula dari kisah Ken Arok, yang merupakan anak hasil hubungan gelap, ia hidup dengan cara sungguh berandalan namun pada akhirnya ia bisa menjadi seorang raja yang memimpin Singasari, meskipun berakhir mengenaskan juga dibunuh oleh anaknya, Anuspati. Pertumpahan darah terus terjadi, hingga akhirnya ada semacam genjatan senjata antara dua sepupu, yang bersama sama ingin membangkitkan kerajaan singasari dari Perang Saudara
Selain kisah keluarga yang berdarah darah, Herald juga menceritakan karakter ambisius seperti Gadjah Mada, seorang panglima perang yang berasal dari keluarga biasa biasa saja yang kelak menjadi orang kepercayaan Ratu Gayatri untuk menyatukan wilayah Majapahit. Gadjah Mada yang begitu ambisius justru nantinya akan membawa malapetaka tatkala pernikahan antara Hayam Wuruk dan permaisuri Kerajaan Sunda, Citra Rasmi yang biasa kita kenal sebagai Perang Bubat
Perang Bubat diceritakan begitu menegangkan. Gadjah Mada yang ambisius dan terlalu startegis, dan barang kali juga tidak pernah berinteraksi secara menusiawi, menafsirkan iring iringan pernikahan sebagai taktik perang. Kejadian itu diisi dengan dialog dialog yang membuat kita sebagai pembaca 'geleng geleng' kepala. Dan bertanya tanya, 'kenapa sih Gadjah Mada' melakukan hal itu!?, seraya berandai andai apa jadinya jikalau Kerajaan Majapahit akhirnya bersatu dengan Kerajaan Sunda. Mungkinkah kita sebagai negara/kerajaan akan kebal dengan segala penjajahan dari negara lain?
Selain, Prapanca. Buku ini juga mengambil sudut pandang Ma Huan, seorang penjelajah muslim yang menemani Laksamana Zeng He. Pengamatannya menurut saya yang paling realis. Karena ia merekam bagaimana keseharian rakyat Majapahit di luar kerajaan. Mulai dari berdagang, pakaian yang mereka pakai dengan lusuh, bahkan sebagaian perempuan masih bertelanjang dada. Ia disambut dengan ramah oleh sebuah keluarga dan memberikannya hidangan yang lezat. Ma Huan juga sempat trauma dengan prosesi pembakaran janda, dimana seorang janda ketika suaminya meninggal, sang janda harus menyusul ke akhirat dengan cara dibakar hidup hidup
Runtuhnya Majapahit beriringan dengan bangkitnya Kerajaan Demak yang bercorak Islam di pesisir utara. Di timur tengah kita mengenal Perang Salib antara pasukan muslim dan kristen, kalo di sini, kita punya perang antar Kerajaan Demak dan Kerajaan Majapahit, pasukan hindu dan pasukan islam. Awalnya Kerajaan Majapahit bisa menghalau pasukan muslim, karena saat itu kerajaan majapahit jauh lebih unggul dari segi persenjataan dan bangunan. Namun satu persatu pemuka hindu masuk islam dan dijanjikan sebagai sultan. Kerajaan Majapahit ditinggalkan oleh rakyat dan rajanya, sebagian besar pindah ke Bali, yang membuat Kerajaan Demak mudah untuk merebutnya
Refleksi
Majapahit karya Herald ini sungguh epik. Bahkan membuat saya terharu. Tidak ada suatu perasaan paling menyentuh selain merasakan masa kejayaan, termasuk masa kejayaan negara tercinta ini, Indonesia.
Herald juga memberikan mencatatkan bagaimana budaya Majapahit masih berpengaruh hingga ke era modern. Mulai dari berdirinya Batavia, nama sumpah Palapa yang dijadikan sebagai nama satelit. Bahkan perilaku politisi yang sedikit-banyak beririsan sifatnya dengan para anggota Kerajaan Majapahit jaman dahulu. Dan saya menyadari bahwa ternyata kita tidak berubah banyak. Kita masih mengagung agungkan para politsi layaknya rakyat Majapahit mengidolakan Raden Wijaya. Belum lagi permainan dua kaki dan sifat oportunis dalam memperoleh kekuasaan. Ratu Suhati yang terkenal sangat membumi, kerap blusukan dan membangun komunikasi dengan rakyat bawah memberikan deja vu bagaimana sifat para politisi akhir akhir ini di sosial media.
Buku Majapahit menceritakan sejarah secara mutahir, bak memberikan tumpangan mobil mesin waktu, ia memberikan sejarah Majapahit secara realis dengan bumbu bumbu mitos kearifan lokal. Buku ini sebagai usaha membongkar pertanyaan yang mungkin dilontarkan anak 6 tahun, "Sebelum ada negara Indonesia, ada negara apa?", lalu Herald akan menjawab pertanyaan itu dengan sabar dan jelas.
Beli buku Majapahit, kalau kamu tertarik juga membaca Buku Majapahit yang seru ini


Comments
Post a Comment