Generasi Yang Putus Asa


Kayaknya tiap generasi selalu punya masalah yang berbeda. Terutam terkait dengan metode mana yang terbaik untuk mendidik dan mentransfer ilmu pengetahuan. Jaman saya dulu, guru adalah manusia setengah nabi yang selalu digugu dan diperhatikan. Kehadiran guru memberikan ketegangan tersendiri. Murid tidak ada yang berani macam macam

Namun saat ini, sepertinya gap guru dengan murid terlalu dekat, bahkan cenderung tidak ada. Saya baru menyadari hal ini baru baru saja. Padahal gejalanya sudah saya temui saat masih menjadi murid dulu. 

 Jadi sewaktu mondok, saya sering kali menemui beberapa guru, terutama para guru muda, yang mencoba untuk menghapus hirarki guru antar murid. Hasilnya? banyak murid tidak menganggungkan guru. Mereka menganggap guru guru ini adalah seorang teman. Yang mengakibatkan susahnya masuk ilmu. Karena dari awal, guru sudah direpresentasikan sebagai orang yang derajatnya sama

Bagi saya, hal ini berakibat fatal karena guru seharusnya menjadi seorang panutan. Ia seharusnya bisa menjaga marwanya sebagai guru. Ia berbeda karena mengemban amanat berupa ilmu. Sayangnya saya terlambat menyadari hal ini

Peran guru di sekolah, atau di lembaga pendidikan manapun termasuk pondok pesantren kian terdistorsi. Apalagi di era sosial media ini, banyak sekali para influencer yang justru  sering dijadikan panutan, padahal segala tingkah lakunya tidak mencerminkan pendidik. Seperti merokok, minum minuman keras di depan kamera, berbicara kasar, dan lain sebagainya

Entah jaman sekarang semua peran terasa sering tertukar tukar. Selebriti ingin menggurui, sedangkan guru ingin menjadi selebriti yang selalu dicintai. Ada perasaan bersalah seumpama murid membenci dirinya. Guru lebih takut ia dibenci karena ga asik, daripada takut bahwa murid muridnya tidak bisa menerima ilmu

Tidak hanya dari kalangan pendidikan. Politisi juga seperti itu. Politisi ingin menjadi pengusaha, dengan cara membuat kebijakan yang menguntungkan alih alih melayani. Sedangkan para pengusaha ingin maju ke politik dengan cara mengais elektibilitas. 

Sehingga tidak heran segala carut marut ini menciptakan generasi yang putus asa. Saya melihatnya dengan jelas saat beberapa waktu lalu muncul konten di Tik Tok tentang anak anak yang sengaja putus sekolah demi ingin sukses jualan di sosial media. Mereka juga tidak lupa memberikan target berapa nominal yang harus mereka raih, nilainya beragam 100 juta, 500 juta hingga 1 milyar. Tentu hal semacam ini memberikan kita keprihatinan. Kita ingin marah, ingin sedih, ingin menertawainya. Semua jadi satu, karena apa? karena banyak sekali peran dalam negeri ini yang tidak befungsi sebagaimana mestnya

Sebenarnya bukan salah anak anak itu untuk jatuh ke pemikiran tersebut. Pertama, seumpama mereka ingin rajin sekolah untuk mendapatkan nilai terbaik, menjadi lulusan terbaik, lalu bekerja untuk negaara, negara tidak segan segan menjebloskan mereka ke dalam penjara. Kedua, seumpama mereka ingin bekerja di sebuah perusahaan, pasti juga akan kalah dengan orang dalam. Ketiga, lingkungan mereka di internet maupun di dunia nyata selalu dikelilingin oleh cerita cerita menjadi kaya instan. Entah dengan berjudi, trading, atau investasi. Di tambah, budaya flexing di sosial media yang semakin membuat mereka tambah yakin bahwa kaya raya adalah satu satunya tujuan, apapun caranya

Di sisi lain, guru guru kita belum sejahtera. Boro boro bisa memberikan pengajaran yang baik. Kadang mereka dihujani dengan beban administratif. Belum lagi kasus kasus pelecehan seksual di lingkaran warga sekolah

Belum lagi hiburan anak anak yang semakin tergerus. Games di handphone sudah diisi oleh gacha dan judol. Harga pangan yang semakin mahal dan buku yang masih tergolong barang mewah

Sungguh mengerikan kalau melihat bagaimana anak anak hidup di negeri ini. Segala upaya dan petuah untuk bisa semakin maju rasanya sia sia. Barang kali Gitasav benar bahwa childfree, adalah salah satunya cara. Barang kali tidak membiarkan anak anak hidup di neraka dunia adalah pahala tersendiri. Barang kali anak anak itu di surga akan berterima kasih kepada kita karena kita tak pernah melahirkan mereka. Bisa jadi

Comments

Popular Posts