Mungkin Kita Harus Setuju Bahwa Album Joji Terbaru Tidak Sebagus Itu

 

Memang harus diakui mengkritik musik jauh lebih kompleks daripada mengkritik film atau buku. Musik melibatnya banyak elemen yang masing masing mempunyai penilaian subjektif. Musik juga tidak terbatas ruang dan waktu, artinya kita bisa menikmati album musik dengan situasi apapun tanpa harus memasang telinga kita fokus layaknya menonton film.

Maka dari itu sebenarnya segala kritikus musik sebenarnya mempunyai biasnya masing masing tentang penilaiannya terhadap album musik dan sering kali menimbulkan keributan, khususnya dengan para fans militan artis yang sedang dikritisi

Fans sudah pasti bias. Ada variabel di luar elemen artistik yang terlewatkan. Seperti ikatan emosional, sehingga fans fans militan ini gagal menilai sebuah karya itu bagus atau tidak berdasarkan seni 

Baru baru ini Pitchfork merilis ulasan tentang album yang sudah diantisipasi oleh para fans selama empat tahun, berjudul Piss In The Wind. Banyak yang ngamuk dan menganggap Pitchfork tidak mengerti dengan hal hal menakjubkan di dalam album ini

Sebagai fans Joji, ketika saya membaca ulasan dari Pitchfork sendiri, saya mengakui bahwa ada beberapa poin yang masuk akal. 

"His lyrics are eternally plainspoken and unspecific—you’d be hard-pressed to call anything he writes poetic—and his singing is largely inexpressive" 

Banyak lirik lirik yang menurut saya corny dan tidak mempunyai kekuatan emosi sedalam album sebelumnya, Nectar atau Ballads 1Banyak lirik yang biasa saja, dan hanya menunjukkan emosi di permukaan

Tidak hanya itu, intensi Joji untuk bisa memadukan gaya musiknya yang sad boy dan balad, hit and miss dengan aransemen musik yang eksperimental dan kontemporer. Kita bisa mendengar PIXELLATED KISSES, seperti biasa Joji bernyanyi dengan gayanya whispering dan lo-fi dengan musik yang industrial. Atau LOVE YOU LESS dimana Joji bernyanyi dengan gaya falseto, yang diiringi dengan musik ala ala showgaze. 

Ide menggabungkan nuansa kontemporer dengan pesona Joji yang melankolis, perlu saya akui sangat berani. Joji membawakan liriknya yang sedih dan menyakitkan dengan cara yang segar, mengusung beberapa producer musik seperti 100 gecs dan Yeat, bukanlah sesuatu yang saya sangka sangka. Selain itu, kolaborasinya dengan Don Toliver bukanlah sesuatu yang baru. Joji selalu membawa artis hip hop yang jauh di luar genrenya sebagai eksplorasi. Dulu ia membawa Lil Yacthy dan Trippe Redd, semuanya bagus. Dan Don Toliver berhasil memberikan warna yang berbeda

Hal pertama yang menjadi pro kontra sejak album ini diumumkan adalah perihal durasi. Hal ini sudah dijelaskan oleh video lama Joji, bahwa ia menyukai durasi lagu yang pendek. Karena ia berfikir 'I love them (songs) short, because it is tight, you know what I mean'. Tapi ada beberapa lagu yang sebenarnya dipaksakan pendek.  

Saya pun awalnya menduga bahwa album ini akan flop setelah mengetahui hal tersebut. Karena memang jika dilihat dari album album sebelumnya, Joji sebenarnya sudah jarang membuat lagu dibawah 3 menit. Contohnya album Nectar yang bagi saya merupakan titik puncak Joji paling mature dari segi musikalitas. Album yang sangat ng-pop, dan cocok dengan persona Joji. Ketika saya melihat tracklist pada album PITW, saya ragu, ada banyak lagu dibawah 3 menit yang bisa jadi tidak sebagus dengan lagu lagu di album sebelumnya 

Saya tidak mengatakan album ini jelek, beberapa ada yang work sebagai lagu yang mature. Namun tetap saja, there are something that a little bit off. Maka dari itu kritikus dari berbagai macam media seperti Pitchfork sebenarnya valid karena album ini memang belum begitu memuaskan. 

Saya pun semakin menyadari bahwa Joji's label era tidak begitu buruk. Setidaknya Joji mempunyai arah seni yang jelas, skala produksi yang memadai dan matang. Alih alih berlindung di balik kata indie namun hasil serba nanggung. You chose total freedom but you got total messed-up artistic songs 

 

 

 

Comments

Popular Posts