Dio


"Aku berpijar nan jauh dari alam yang tak dikenal
Semua orang menganggap ketiadaan ku ada
Dan jika semua orang telah mati, aku juga tak akan bangkit lagi"

Orang orang memanggilnya Dio. Manusia biasanya memanggil dia dengan huruf terakhir dari namanya. O

O, dari mana saja? aku butuh kamu
O, aku pinjem PR kamu ya?
O, kamu gapapa kan?

Perkataan itu melalang dan hinggap di setiap hari yang ia miliki. Ia sungkan untuk memgusir. Tiap pergi satu, datanglah seribu.

Dio sadar sekali dia diberdaya bulan bulan -atau tahunan. Jika akau punya dua jiwa dalam satu jasad, maka jiwa ku yang lain akan menamakan semua orang adalah sosiopat!, tak punya perasaan, dan suka berbohong.
Ya, kepada siapapun
Dio
Orang lain
Atau dirinya sendiri

Tapi aku lebih kasihan jika Dio yang dibohongi. Semua orang bilang takkan melupakan Dio setelah Dio mau membuatkan PR, mengerjakan operasi hitung, mengisi esai sejarah. Tapi, setelah itu Dio takkan diajak tertawa. Atau pasnya,. takkan pernah diajak untuk berkawan bersama

Dio bukan orang yang sabar, Hanya saja, dia tak mau melawan. Dia tak mau berurusan dengan hawa nafsunya dalam dalam. Dia tak mau nyari-ribut dengan emosinya yang bisa membara.

Dio belum menemukan jati dirinya. Maka datanglah aku dengan membawa surat. Aku letakkan di atas meja, laci, kursi, atau dinding kamar mandi tempat biasanya dia bersembunyi.

Tapi aku marah. Dia tak mau menerka semua itu. Dia tak pernah mencoba apa yang aku tulis untuk dirinya. Padahal seandainya dia mencoba sedikit saja, semua akan terbayar lunas. Dan dunia seisinya barang kali bisa ditaklukan

Dio memang belum mempunyai jati dirinya. Kesal aku dibuatnya
Semua bisikan sudah tak mempan
Semua rayuan, apalagi

Saatnya akau membawakan benda penebus sakit
Biar mereka tahu bagaimana rasanya

Tapi, saat aku menampakkan diri. Dia ketakutan. Dia lari. Hanya Dio yang bisa melihat ku. Orang lain kebingungan melihat kenapa Dio berlari
Post a Comment (0)
Previous Post Next Post